Minggu, 04 Juli 2010

Bermain dengan Cahaya Bag. 2


Entah kenapa beberapa hari ini saya tertarik dengan dunia "LOMO" hmmm.... sebenarnya ada hal yg menarik pada setiap gambar yang di hasilkan oleh kamera "LOMO" tersebut,, salah satunya mempertegas objek apa yang di ambil serta perpaduan contras yang sangat menarik.... yaa saya juga merasa ada benarnya juga... diamana gambar yang dihasilkan oleh kamera digital terasa jauh lebih menarik daripada dengan kamera "LOMO" ini,,, yaa jangan salah juga dalam beberapa hari ini saya lagi asik-asik hunting gambar.. denagan kamera "LOMO"








Bermain dengan Cahaya

Dimana pun tempatnya minumya produk dalam Negeri

cat-cat-cat

Animal instinct

Aku Cinta Batik

Sabtu, 05 Juni 2010

Sabtu, 29 Mei 2010

At Last....

Apakah kalian pernah melewati satu fase di mana kalian memulai sesuatu tanpa merencanakan akhirnya?

Atau merancang sebuah cerita tanpa pernah tahu seperti apa penutupnya?

Aku pernah.
Dan sayangnya, aku terlalu menikmati jalan ceritanya. Aku lupa, semua cerita harus memiliki muara. Seperti air sungai yang berkumpul di samudera.

Jangan anggap ini sebagai sebuah nasihat atau cerita bijak. Percayalah tidak ada yang bisa diambil dari cerita ini. It’s just a story of mine. And one of my stories is over now.

The story of my blue horizon turns into history.

***

Kau boleh percaya. Kalaupun tidak, juga tak apa. Ketika aku menuliskan ini, mendadak hujan turun. Bahkan tanpa rintik di awal. Gelegar petir menyambar, membuat kaca di coffee break sedikit bergetar.

Aku masih di sana, di tepi jendela. Getaran kaca menyadarkan aku kepada sesuatu. Refleks aku menoleh ke luar. Langit di atas sana tak lagi biru. Ia telah berubah kelabu.

Aku hanya ingin kau tahu. Hatiku tidak berubah menjadi abu. Pesan yang kau tinggalkan di salah satu account jaringan sosialku memang cukup membuat termangu. Setelah lama tak bertukar kabar, mendapati namamu ada di dalam inbox cukup membuatku berdebar.

To be honest, I already predicted what it was.
This was about the ending of our story.

Percayalah, aku tidak terkejut.
Oh, sedikit kehilangan. Tentu saja.

Dan ini yang justru lebih mengejutkan aku. Merasa kehilangan.

***

22 Januari 2010, pesan itu masuk ke inbox Fecebook.

Dari namanya saja aku sudah tahu. Engkaulah biru itu. Entah apa yang mendorongku untuk menunda membuka pesanmu.
Ini berbeda dari biasanya. Dulu, setiap kali mendapati namamu di inbox e-mail atau Facebook, aku selalu bergegas membukanya. Seharian, aku bisa tersenyum. Padahal, itu hanya e-mail singkat yang terkadang sekadar penanda kalau kita masih saling mengingat.

Entah mengapa hari ini aku tak ingin tergesa. Judul pesanmu pun sebenarnya tampak netral. Tak mengindikasikan apa pun. Hanya saja, sebuah suara yang berbisik halus di balik telinga, membuatku menunda membukanya. Ini terdengar tidak logis untuk orang yang realistis. Tapi, satu ketika kamu harus memercayai intuisi.

Ia memberitahumu sesuatu yang segera akan kauhadapi.

Dan dugaanku benar. Intuisi tidak pernah bisa diabaikan. Berteman baiklah. Sebab kenyataan akan menyusup diam-diam, menjelma firasat yang memberikan tanda untukmu dari balik sebuah kenyataan.

Apa yang disisakannya untukmu?
Kenangan.

Itu tak akan bisa kauhilangkan dari ingatan, sekalipun kau ingin menguburnya. Serapat apa pun.

Aku ingin mengingatnya sebagai sebuah cerita yang layak kita bayangkan, bisa sambil tersenyum, bisa juga sambil menghela napas. Bahkan mungkin suata saat, kita akan tergelak mengingat kebodohan-kebodohan yang kita lakukan.

Tak ada yang salah. Dan seperti yang kautuliskan. Sebagian dari kenangan itu sebaiknya memang tetap tersembunyi. Menjadi obrolan imajiner kita di meja makan.


…. I'm gonna let this story remain hidden deep inside. And remembering what happened on the night before you leave, inside the maroon red ***** skylark. Some memories are best kept hidden.

Tidak ada yang perlu berubah, selain mengingat semuanya sebagai sebuah cerita yang harus kita kenang dalam diam.

***

Angka 22 tak pernah istimewa buatku. Dan tiba-tiba dua angka kembar ini menjadi penanda yang cukup menarik untuk sebuah ucapan selamat menciptakan cerita baru.

Instead of goodbye sign, this number turns into a sign to say ‘Welcome to the new story of our life.’

Tak ada ucapan selamat tinggal yang perlu diucapkan. Karena tak ada yang benar-benar kita tinggalkan. Kau dan aku hanya berpindah ke cerita lain.

Dan ini yang mungkin membuat aku merasa kehilangan. Cerita kita sudah tak lagi berjalan pada plot yang sama.

Aku dan kau tak lagi berada dalam satu cerita.

***

Kata orang, ada terlalu banyak kebetulan dalam hidup. Tapi menurutku, ini bukan kebetulan. Segala sesuatunya sudah terencana. Ini pertanda. Alam memberi isyarat, dan kita membacanya. Hanya terkadang, kita tak pandai memberi makna.

Hujan berhenti ketika tulisan ini selesai.
Perlahan langit kembali biru.

Yep, some memories are best kept hidden.
I agree with you

Minggu, 16 Mei 2010

"Jogja Photograph de' Culture"

Berbulan-bulan, berhari-hari, berjam-jam..... akhirnya sampai juga pada puncaknya... ekh belum deng..... masih 80%.... mudah-mudahan bisa 100%.... hahahahah bela-belain 3 minggu gag kuliah, pastinya sukses..... hmmm.. maka dari itu saya ARYA berjanji dan bersumpah mudah-mudahan seluruh dedikasi yg saya beri pada acara ini bisa berguna dan lebih bagus lagi apabila berjalan dengan baik dan sukses tentunya..... amien

Senin, 03 Mei 2010

Dia wanitaku....




Miss her right in the morning at 5:02 am... I miss You


She was a woman

Thank you love, you give a small form of life into me .... I love you my dear..!!!


"Jazz mben Senen"








Kings of Convenience

Buku yang mau saya cari... bagi yang baca tolong hub. saya jika punya info buku tsb.



Campbell, James. This is the Beat Generation: New York, San Francisco, Paris. Secker &Warburg: London, 1999.
Cross, Nigel. The Common Writer: Life in Nineteenth Century Grub Street. Cambridge University Press: New York, 1985.
Easton, Malcom. Artists and Writers in Paris: The Bohemian Idea. 1803-1867. St. Martin's Press: New York, 1964.
Escholier, Raymond. Hugo, Roi De Son Siecle. Arthaud, Paris. 1970. (images used only)
Foster, Edward Halsey. Understanding the Beats. University of South Carolina Press, 1992.
Groos, Arthur, and Roger Parker. Giacomo Puccini: La Boheme. Cambridge University Press: Cambridge, 1986.
Hugo, Victor. Hernani. Bordas, France. 1969. (images used only)
Hugo, Victor. Les Miserables. The Modern Library: New York, 1992.
Janson, H.W. History of Art: Third Edition. Harry N. Abrams/Prentice Hall, Inc.: New Jersey, 1986.
Knepler, Henry, ed. Man About Paris: The Confessions of Arsene Houssaye. Victor Gollancz Ltd.: London, 1972.
Machnin, Hannah. The Grisette as a Female Bohemian.History Department, Brown University: Providence, 2000.
Seigel, Jerrold. Bohemian Paris: Culture , Politics, and the Boundaries of Bourgeois Life, 1830-1930. Elizabeth Sifton Books: New York, 1986.
Starkie, Enid. Petrus Borel: The Lycanthrope, His Life and Times. Faber and Faber Ltd.: London, 1954.
Thackeray, William Makepeace. Paris Sketchbook. Dana Estes & Company: Boston, 1840.
Thackeray, William Makepeace. Thackerayana. Chatto and Windus: London, 1875.
Wilson, Elizabeth. Bohemians: The Glamorous Outcasts. Rutgers University Press: New Jersey, 2000.

Sabtu, 17 April 2010

Gilaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa......

Ancient times my friends and i took some photos ahhahahah....(LOL) remember this photo taken at birthdays Suci Larasati Siddik

Tanjung Priok, Spiral Kekerasan, dan Kita


Bung,

KORBAN JATUH lagi di Tanjung Priok. Berawal dari niat penguasa melalui Satpol PP menggusur lahan sengketa di mana ada makam yang konon keramat—Mbak Priok. Warga tak terima. Bentrok fisik tak terelakkan. Korban nyawa jatuh. Korban luka-luka berpuluh.

Duapuluh enam tahun sebelumnya, September 1984, kerusuhan juga pernah terjadi di Tanjung Priok. Konon berawal dari seorang aparat yang menutupi poster yang bertuliskan, ”wanita muslim wajib pakai jilbab” dengan koran yang telah dicelup air got. Warga tak terima, beberapa orang ditangkap oleh militer itu. Reaksi selanjutnya warga meminta agar anggotanya yang ditangkap dilepaskan—kalau tidak mereka akan mengerahkan massa. Karena tak ditanggapi, massa marah, kerusuhan pun terjadi, korban tak terelakkan. Isu yang berkembang menjadi penolakan rakyat terhadap azas tunggal pancasila, penolakan kerjasama dengan china, dan pembangkangan lain …

Tragedi 1984 itu dikenal dengan Pelanggaran HAM Tanjung Priok—sampai sekarang kasusnya dibuat mengambang. Kalaupun ada yang diadili—mengutip Yasraf A Pilliang—cumalah bayang-bayang, bukan kasus sekaligu aktor sesungguhnya. Yang barusan terjadi, 2010, biar mudah saya sebut saja Pelanggaran HAM Tanjung Priok II—walaupun untuk menetapkan itu harus ada investigasi dan pencarian fakta-fakta di lapangan.

Saya bukan ahli HAM, tapi sedikit banyak tahu, ketika negara menggunakan cara-cara kekerasan menghadapi rakyatnya bahkan sampai menimbulkan korban, bisa dipastikan sudah terjadi pelanggaran HAM disana. Apalagi tidak ada antisipasi yang cepat—padahal corak akan terjadi kerusuhan massa sudah dapat diduga.

Bung,

Mengapa bisa terjadi dua peristiwa di tempat—yang hampir—sama? Sama-sama menjatuhkan korban? Kenapa penguasa [dan juga rakyat] suka dengan cara-cara kekerasan untuk mengambil dan mempertahankan haknya?

Saya tak bisa menjawab semua itu. Tapi Dom Helder Camara, seorang aktivis anti kekerasan dari Brazilia, menjelaskan dengan teori spiral kekerasan. Jadi kekerasan yang yang dilakukan negara—bisa jadi dalam bentuk ketidakadilan—dibalas oleh rakyat dengan kekerasan, misalnya demo berdarah, pembangkangan, dll. Penguasa kemudia merespon itu dengan kekerasan juga—semisal Satpol PP, perpanjangan tangan penguasa itu, yang menggusur, memukul, menendang, … rakyat. Tentu rakyat tak diam, membalas lagi dengan kekerasan. Begitu selanjutnya.

“Ketika kekerasan susul-menyusul silih berganti, dunia jatuh ke dalam spiral kekerasan,” tegas Camara.

Bung,

Saya pikir bisa jadi spiral kekerasan itu yang telah terjadi di Tanjung Priok kemarin. Atau bahkan dalam kekerasan-kekerasan negara yang telah berlangsung selama ini. Sebenarnya kita telah terjebak dengan gulungan-gulungan spiral yang kian hari kian waktu bertambah besar dan menjerat dan menjepit tampa ampun. Akhirnya penguasa tak tahu lagi bagaimana menjalankan kekuasaanya kecuali dengan kekerasan. —bisa jadi—Juga kita.

Bung,

Kira-kira dengan apa kita memotong spiral itu?


NB:

Turut berduka-cita sedalam-dalamnya untuk orang-orang yang dikorban dalam kerusuhan Tanjung Priok.

Be a Normal


Normal adalah tidak berbeda dengan yang lain. Tidak aneh. Manusia berjalan menggunakan sepasang kaki, seekor kuda berlari dengan empat kakinya, itu normal.

Kalau begitu, siapa yang menetapkan manusia berjalan dengan sepasang kaki dan kuda berlari dengan empat kakinya?

Normal bukan ditetapkan, terjadi secara alamiah. Adaptif. Terjadi begitu saja.

Lalu bagaimana dengan orang yang dilahirkan buta? Apakah orang-orang akan menganggapnya normal?

Oh, tidak, tidak. Normal adalah proses generalisasi. Dari sebuah populasi lalu dengan metode-metode yang objektif dan akurat diambil beberapa sample yang mewakili populasi. Hasil amatan sample itulah normal. Jadi, dapat dikatakan bahwa normal adalah suatu hasil dari analisis statistika terhadap alam yang terjadi secara alamiah.

Bagaimana jika populasi itu adalah sebuah sekolah khusus tunanetra? Seluruh populasi adalah orang-orang buta. Apapun metode sampling yang digunakan, tentunya akan menghasilkan satu sample, orang buta. Lalu, disimpulkan buta adalah normal?

Bukan begitu, populasi yang digunakan haruslah semesta alam. Bukan sekumpulan kecil dari sebuah populasi yang besar. Untuk dapat menghasilkan normal, populasinya haruslah yang terbesar. Haruslah alam itu sendiri, karena normal itu alamiah.

Kalau begitu, kenapa normal ditetapkan demikian? Haruskah normal itu sebuah proses statistika dengan populasi terbesar, alamiah? Jadi, normal itu ditetapkan? Normal itu sebuah konvensi? Konvensi kalau orang buta adalah tidak normal, karena ada manusia yang tidak buta?

Ya. Menjadi normal ternyata hanyalah menjadi seperti apa yang telah di konvensikan. Buta adalah tidak normal, karena sample-sample yang mewakili populasi semesta adalah bukan orang-orang buta. Suatu saat, jika orang yang dapat melihat tinggal seorang saja, orang buta adalah normal.

Jadi, janganlah bersedih kawanku jika kau tidak bisa melihat. Jangan risau jika kau dianggap tidak normal. Tidak normal berarti diluar kebiasaan. Di luar kebiasaan berarti luar biasa. Luar biasa itu hebat. Bergembiralah kawan, ternyata kau orang yang hebat. Kau masih bisa menatap hidup walaupun tidak bisa melihat, kau sungguh hebat, amazing, sobat.

Aku menentukan Aku


Waktu cepat berputar, sulit menghentikan gerakannya, karena ya, memang itulah waktu. Berputar terus hingga kadang aku kelelahan mengejarnya, kesusahan menggapainya, tapi bagaimanapun tetap harus digapai dan dikejar. Lari jauh meninggalkan kemarin, terus mengejar yang esok. Kadang masih ku berlari mundur. Kakiku melangkah ke depan namun pandanganku tak henti menengok. Aku masih saja mengkhawatirkan yang lalu padahal yang terlewatkan itu tak sebegitunya penting untuk ditengok. Aku bingung akan arti dari memikirkan diri sendiri dan tak punya waktu untuk diri sendiri. Apa yang kulakukan sekarang? apakah menjalani sisi egoisme yang berlebihan, atau malah lupa mengisi kecukupan ego itu sendiri?.

Rasanya nggak ada yang sulit, dan rasanya nggak ada yang mustahil. Tapi diri dan pikiran kita sendiri yang menyulitkannya. Seperti aku, aku tahu aku bisa lari, tapi nyatanya aku masih saja berjalan pelan, pelan, pelan, dan belum juga sampai. Aku nggak menertawakan, aku nggak menangisi, aku hanya butuh lebih banyak energi pada batin, jiwa dan raga. Aku butuh itu dan aku tahu apa yang harus kulakukan. Mengisi kepercayaan diri, dan kepercayaan pada diri sendiri.

Ada apa dengan "MALAM MINGGU" ?

Sejenak saya melihat-lihat akun facebook saya, dan ternyata sebagian teman-teman saya banyak yang menulis dalam profilnya mengenai rencana-rencana di malam minggu, atau malah ada juga yang bertanya-tanya akan kemana malam minggu ini, bahkan ada yang kesal karena ternyata dia tidak kemana-mana pada malam minggu ini.

melihat tulisan profil teman-teman tersebut, saya jadi bertanya-tanya, sebenarnya ada apa seyh dengan malam minggu?

bila kita artikan secara normatif, memang malam minggu adalah malam yang sebenarnya biasa-biasa saj dengan malam-malam yang laian, mungkin perbedaan terbesar malam minggu denga malam yang lain adalah bahawa malam minggu adalah malam dimana adalah malam akir pekan, dmana pada hari minggu merupakan hari libur internasional, kecuali di beberapa negara, seperti Mesir yang liburnya pada hari jum’at.

mengingat hari malam minggu atau bis juga disebut sabtu malam adalah akhir pekan menjelang libur, maka memang banyak sekali tempat-tempat hiburan (bahasa gaulnya : hang out) yang beroperasi sampai tengah malam, atau bhakan sampai pagi.

Pergi bersama teman-teman, keluarga, atau bahkan pasangan merupakan suatu momen yang sangat menyenangkan di malam minggu, mungkin karena besoknya adalah hari libur, jadi tidak banyak pekerjaan yang dilakukan esoknya.

dari pantauan saya sendiri saja, setelah melewati beberapa malam minggu, sebuah gerai restoran cepat saji yang memang buka selama 24 jam, selalu dipenuhi oleh pengunjung, bahakan samapi lewat tengah malam pun selau dipenuhi oleh pengunjung. Pengelola tempat-tempat hiburan pun biasanya juga memanjakan pengunjungnya yang datang di malam minggu dengan menampilkan beberapa pertunjukkan khusus, lumayan lah sekalian melepas lelah dan penat setelah seminggu beraktifitas dengan rutinitas pekerjaan yang kadang-kadang bisa membuat stress.

malam minggu memang bagi sebagian orang memang dapat menciptakan sensasi tersendiri, tapi bagi sebagian orang yang tidak mempunyai rencana pada malam minggu pun masih banyak sebenarnya kegiatan bermanfaat yang dapat dilakukan, seperti mengakrabkan diri dengan keluarga. membaca. beribadah lebih banyak, atau malah bisa juga nongkrongi kost masing-masing..hehehehe…so, “Have a Nice Weekend”


Senin, 12 April 2010

saya suka.....meliahat gambar ini

Kamis, 08 April 2010

BODOH


Kuasa untuk memendam ini sudah di ambang batas, aku sudah tidak tahan lagi, sangat mengecewakan jika sesuatu yang kita kerjakan kurang di perhatikan apalagi kurang di hargai. Sesak tenyata dada ini melihat hal ini berhari-hari, ingin kucongkel matanya dan membenturkan kepalanya ke tembok sambil di masukin ke mesin penggiling biar habis sudah.... sangat tidak memuasakn sekali minggu ini banyak kebohongan yang aku tutup untuk tidak ku bicarakan ke DIA, sangat menyakitkan menipu dengan senyuman lalu berpaling pergi dari hadapanya, aku sudah tidak tahan harus seperti ini terus kenapa ini jadi susah untuk aku lakukakan kenapa dengan diriku ini, seperti ada anjing yang setiap hari masuk ke otakku dan mengencingi isi kepalaku, bodoh... inilah sebenarnya diriku.

Rabu, 07 April 2010

The Awesomeness




it is Dimitri Maksimov
Becoming officially and im his stalker
He's just effing greeaatthh!

Selasa, 06 April 2010

Tenggelam

Bosan dengan sepenggal cerita tentang cinta, hanya selalu itu saja yang jadi bahan perbincangan. Bla….bla….bla… sungguh membosankan. Yang lebih membosankan lagi kalau lihat perempuan cantik dangan atribut feminimnya, bokong berisi, dan polesan diwajahnya. Terlalu biasa untuk dilihat hal yang seperti itu yang cantik selalu ada dimana-mana. Tapi yang aku inginkan adalah cara kamu memandang aku yang selalu aku inginkan, wangimu yang tidak terlalu tajam, Caramu berkata tata bahasa, dan akhirnya aku menyadari aku tenggelam dalam cinta, sungguh dalam khayal Cuma ada kamu. Sudahlah, terlalu banyak hal yang aku inginkan, semoga esok menjadi kejutan yang menyenangkan.

Dialog

Dialog dengan diri sendiri sungguh menyebalkan, antara memilah mana yang harus dikerjakan. Terus berfikir tanpa ada tindakan sama saja bodoh. Ingin berbuat ini itu, toh semua itu hanya ada dipikiran saja bukan?!. Jadi sudah biarkan saja hingga menguap. Mungkin kamu tidak menyadari betapa takutnya kamu menghadapi masa depan, karena masa depan ditentukan hari ini. Hari ini sedang hujan, aktivitas apa yang akan kamu kerjakan?. Percuma mau kuliah juga pakaianmu pasti basah. Mending kita disini saja. Ayo kita tidur, dengan tidur mungkin kamu bisa lebih hidup dengan mimpi-mimpimu yang mengila kesana-sini. Kamu tidak takut akan masa depan, pasti. Kamu memiliki banyak kemampuan, kamu kuat, kamu sabar, dan banyak kawan tentunya Aku mungkin sedikit takut, tapi Cuma sedikit.Aku tahu, kamu takut tidak bisa memberi kekayaan yang cukup bukan. Karena hidup memang mencari materi bukan. Mungkin uang bisa membuat terpuruk tapi, kita butuh. Entahlah apa aku cukup naïf, tapi aku terlalu banyak inginnya dan malas mencari uang untuk memenuhi segala keinginanku. Jadi aku kubur semua keingian tentang materi, yang aku inginkan hanya bisa bahagia. Bahagiaku adalah membahagiakan orang-orang disekelilingku. Orang-orang yang aku sayangi. Huahahah….tapi nyatanya bukan begitu ah. Kamu selalu mencari mana yang lebih rame bukan?! Ayo ngaku saja. Hhmmm…(mengaguk-anggukan kepala dan hanya terdiam) Aku seperti itu aku ingin aku senang. Kalau begitu kamu egois dong. Sedikit ah,. Eh, tapi kamu benar aku memang egois dan plinplan. Apalagi..!! masih belum puas?! Saatnya mencari kegiatan lain selain ngobrol dengan dirisendiri. Perlu niatnya kuat untuk mendapatkan keinginan yang ada. Dan perlu paksaan menuju hal yang lebih baik.

Aku hanya seorang Aku


Mungkin ini bisa dibilang rasa malu yang aku rasakan. Terkadang aku merasa seperti anak kecil, terlihat menyebalkan memang. Tapi jiwa ini mengalir ke arah yang seperti itu, dan diri ini terbawa arus didalamnya. Aku sering mengalami suasana emosional yang kronis sehingga menyebabkan stuktur kepribadian aku tempramen. Tempramen disini maksudnya adalah mudahnya turun-naik sarana emosional. Aku lebih senang menyebutnya psiekspresionis. Maka dari itu maafkan aku. Maafkan aku yang senang melamun, berenang dalam pikiranku, terkadang suka melembarkan batu kecil kedalamnya sehingga menciptakan riak, riak yang bergelombang menjadikan kata-kata. Maafkan aku yang selalu mengeluh disampingmu, karena aku hanya ingin dimanja olehmu. Mungkin aku pun malu bertelanjang berlarian didepan banyak orang. Maafkan aku yang belum bisa berdiri sendiri, sebenarnya aku bukan penurut, aku hanya saja senang kalau aku diperintah. Dengan diperintah aku tahu ada orang yang peduli akan keberadaan aku. Bukannya aku tidak tahu, aku hanya ingin diberitahu. Maafkan aku yang menyukai hal-kal kecil yang kebanyakan orang pikir tidak penting. Seperti halnya, aku menyukai neutron dan proton yang melilit diantara sel atom. Semoga kamu bisa menerimaku sebagai “aku”.

Perkenalan Dengan Street Photography

Karenanya saya percaya kalau fotografi itu adalah seni melihat dan ruang publik adalah tempat di mana Tuhan selalu menyelipkan momen ajaib di setiap detiknya.




Street photography, suatu genre fotografi yang lagi terngiang-ngiang terus di pikiran saya setahun ini dan mulai menjalar turun ke hati. Pelan-pelan saya temui foto-foto yang membuat saya reflek kaget, “WOW!! ini sangat brilian, ada seuntai garis bayangan dan diatasnya dua orang berjalan, seolah bayangan itu ialah jembatan, lalu ada lagi sepasang kekasih bermesraan di semacam bangku penonton yang berjejer rapih, dan disudut lainya ada seorang tua yang terlihat memelas, seolah di dalamnya bercerita semacam drama percintaan, bagaimana bisa mendapat momen seperti ini, dan ditempat mana foto-foto ini diambil?”. Yah itulah street photography, semua adegan dalam foto itu terjadi jalan-jalan kota, di tempat-tempat umum, seperti pasar, mall, pantai, museum, trotoar jalan, dan setiap sisi kota lainya.

Rasa penasaran saya berlanjut, bertemu lah saya dengan salah satu buku elektronik Street Photography For the Purist yang ditulis oleh Chris Week, seorang fotografer street yang cukup ternama sepertinya. Melalui forum-forum fotografi di dunia maya, saya mulai menguak tentang genre foto yang satu ini. Juga saya menemukan Unposed.org, suatu wadah para penikmat dan pegelut street photography di Indonesia, rasanya ingin langsung gabung ketika lihat komunitas ini.

Street photography tidak terbatas pada jalanan, aspal, kendaraan bermotor, dan lalu lalangnya, melainkan lebih luas dari itu, kehidupan, dan segala interaksi yang terjadi didalamnya, yah street photography itu mengenai Interaksi, dan di jalanan atau lebih luas diartikan sebagai tempat umum adalah tempat interaksi-interaksi itu terjadi. Untuk menjadi seorang street photographer kita harus bisa menjadi bagian dari lingkungan sekitar kita, mengamati setiap hal yang ada, dari mulai garis, bayangan, bentuk dari suatu benda, manusia, dan segala unsur kehidupan. Sudah pasti dengan kamera SLR dengan lensa range 300mm kita tidak akan mendapatkan “feel” dari kehidupan sekitar, majulah mendekat!



Tidak seperti genre fotografi lainya seperti landscape dan foto model, dalam street photography semua foto didapat secara candid, tidak terencana. Jika dalam memotret landscape atau model kita harus memperhatikan detil dari objek yang akan kita foto. Kita pasti sebelumnya sudah tahu seluk beluk daerah yang akan kita datangi itu, kalau dalam foto model kita pun sudah tau seperti apa penampilan dari si model, apa yang akan dipakai, dan dia bagus untuk difoto dari suatu angel tertentu misalnya. Selain itu objek foto kita pun cenderung statis, tidak bergerak, tinggal mencari angel yang tepat, lalu jepret dengan teknis yang sempurna. Sedangkan di jalanan, tidak ada yang bisa kita lakukan, bahkan seorang koreografer pun tidak mungkin mengatur bagaimana orang-orang harus berjalan, juga tidak ada properti yang tersusun membentuk komposisi sesuai keinginan kita, kita hanyalah penonton, kita hanyalah pejalan kaki, yang dapat kita kontrol hanya lah panca indera kita.



Kalau melihat dari foto-foto om Affandi Agoes, salah satu pegiat foto di ruang publik, selalu menampilkan foto-foto yang unik hasil ekplorasi dan eksperimennya terhadap garis, bayangan, bayangan, refleksi dan kontras. Sangat cerdas, selalu membuat saya terkagum-kagum. Coba liat foto yang judulnya, hmmm, argh hampir semua fotonya Untitled, pokoknya ada satu foto yang menampilkan seseorang yang seolah-olah terjepit oleh bayangan dari bangunan-bangunan sekitar, sungguh pengamatan yang luar biasa.

Dalam street photography kejelian atau intuisi kita lah yang ditantang, intuisi untuk bisa memahami melalui melihat hal-hal yang ada di sekitar kita, lalu bereaksi ketika melihat objek menarik disaat momen yang menarik pula, lalu dapatlah kita foto yang “ajaib” itu. Elliot Erwitt, salah seorang legenda street photographer asalPerancis pernah berkata, “As a photographer you have to be invisible.” Seorang street photographer yang pandai tidak akan merusak ritme dari kehidupan yang ada disekitar mereka, tetap bergerak seolah-olah tidak ada kita disana.


Begitu juga ketika kita melihat foto-foto street, jika kita tidak memiliki imajinasi yang liat, tidak punya kepekaaan sosial, ketelitian, juga rasa humor maka kita tidak akan bisa memahami apa yang terbingkai, lebih baik hentikan niatmu untuk bertanya “POI nya apa ya?”

Lalu kenapa itu hitam putih?

Kebanyak dari foto-foto street memang dibalut dengan tonal hitam-putih. Alasannya ialah Dengan hitam putih kita lebih bisa mengekspose garis, bayangan, teksture serta komposisi. Selain itu, kesedehanaan dari hitam-putih itu membuat foto menjadi ringan. Dilain hal hitam-putih akan menguatkan karakter sehingga menampilkan kesan elegan dan artistik.

Sekilas memang hitam-putih menjadi sebuah identitas bagi setiap street photographer, namun itu tidaklah benar. Menurut saya pribadi hitam-putih adalah cara untuk menunjukan kesederhanaan, masalah kesan artistik adalah urusan nomor dua.

So, jangan terlalu mengidentikkan foto street itu cuma mengedepankan ke-BWannya. Liat lah lebih dalam, warnai tiap inchi dari foto itu dengan imajinasimu.

Jika kalian percaya kalau foto itu bisa berbicara, maka kalian butuh imajinasi untuk bisa mendengarnya. Selamat menikmati keajaiban-keajaiban di sepanjang jalan.